Jalan Semarang–Grobogan Lumpuh, Polisi Terapkan Rekayasa Lalu Lintas
Jalan Semarang–Grobogan Lumpuh, Polisi Terapkan Rekayasa Lalu Lintas
Akses jalan utama penghubung Semarang–Grobogan di Jawa Tengah lumpuh setelah tanggul Sungai Tuntang jebol akibat hujan deras. Kondisi ini memaksa aparat kepolisian menerapkan rekayasa lalu lintas agar mobilitas warga dan distribusi logistik tetap berjalan.
Kronologi Tanggul Jebol
Peristiwa jebolnya tanggul terjadi pada Senin, 16 Februari 2026, setelah debit Sungai Tuntang meningkat akibat curah hujan tinggi. Luapan air kemudian menggerus badan jalan di wilayah Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, hingga akses utama Semarang–Purwodadi terputus.
Genangan air yang cukup tinggi dan arus deras membuat badan jalan rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaraan. Dampaknya, arus lalu lintas di jalur strategis tersebut lumpuh total.
Selain merusak infrastruktur, banjir akibat jebolnya tanggul juga merendam sejumlah permukiman warga. Data sementara menyebutkan sekitar 3.924 jiwa di wilayah Grobogan dan Demak terdampak bencana tersebut.
Rekayasa Lalu Lintas Diberlakukan
Untuk menghindari kemacetan dan risiko kecelakaan, kepolisian menerapkan pengalihan arus kendaraan di kedua arah.
-
Arah Purwodadi–Semarang
-
Kendaraan sumbu tiga ke atas dialihkan melalui jalur Demak.
-
Kendaraan kecil diarahkan lewat rute Penawangan–Godong–Karangrayung–Jeketro–Kemiri.
-
-
Arah Semarang–Purwodadi
-
Kendaraan besar diwajibkan putar balik melalui jalur Pantura Demak.
-
Kendaraan kecil dialihkan melalui Kemiri–Jeketro–Karangrayung–Godong–Penawangan.
-
Petugas disiagakan di sejumlah titik untuk mengatur arus kendaraan dan memberikan informasi kepada pengguna jalan. Rekayasa lalu lintas ini akan diberlakukan hingga kondisi tanggul dan jalan dinyatakan aman untuk dilalui kembali.
Dampak terhadap Mobilitas dan Ekonomi
Jalur Semarang–Grobogan merupakan akses penting yang menghubungkan pusat ekonomi dengan daerah penyangga. Putusnya jalur ini berdampak langsung pada aktivitas harian warga, distribusi barang, serta potensi gangguan logistik.
Pihak kepolisian menyebut rekayasa lalu lintas dilakukan agar mobilitas masyarakat tetap berjalan dan distribusi logistik tidak terganggu, terutama menjelang periode Lebaran.
Upaya Penanganan dan Perbaikan
Pemerintah daerah bersama instansi terkait saat ini fokus pada penanganan darurat, termasuk penutupan tanggul yang jebol serta pendataan kerusakan infrastruktur dan dampak terhadap warga.
Perbaikan akses jalan ditargetkan selesai sebelum musim mudik Lebaran agar jalur utama kembali berfungsi normal.
Kesimpulan:
Jebolnya tanggul Sungai Tuntang tidak hanya menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memutus jalur strategis Semarang–Grobogan. Rekayasa lalu lintas menjadi solusi sementara untuk menjaga mobilitas masyarakat, sementara perbaikan tanggul dan jalan dikebut agar akses vital tersebut segera kembali normal.