Rusia ‘Nikmati’ Ketegangan Eropa–AS dan Sindir Trump: Menanti Jejak Sejarah yang Kontroversial
Rusia ‘Nikmati’ Ketegangan Eropa–AS dan Sindir Trump: Menanti Jejak Sejarah yang Kontroversial
Ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa atas isu geopolitik terbaru kembali menjadi tontonan global — dan Rusia tampaknya menyambutnya dengan rasa puas sekaligus menyindir. Dalam beberapa hari terakhir, komentar pejabat Kremlin yang mengejek kebijakan Presiden Donald Trump menunjukkan bagaimana Moskow melihat dinamika yang berlangsung di dalam dan luar aliansi transatlantik.
Awal Ketegangan: Greenland Memicu Retakan di Transatlantik
Pemicunya adalah pernyataan Trump terkait Greenland, sebuah wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark. Trump mengisukan keinginan Amerika Serikat untuk berperan lebih besar atas pulau tersebut, bahkan membuka wacana kontrol atas wilayah strategis itu — langkah yang langsung memicu keprihatinan tajam dari Eropa.
Pejabat Kremlin, termasuk juru bicara Dmitry Peskov, tidak menanggapi sengitnya kritik itu dengan marah, tetapi justru menyindirnya. Peskov berkata bahwa jika Trump benar-benar berhasil menguasai atau mencaplok Greenland, nama Trump akan “tercatat dalam sejarah dunia” — terlepas dari apakah tindakan itu baik atau buruk dan sesuai hukum internasional atau tidak. Komentar ini tampak seperti ejekan terselubung terhadap ambisi Trump, sekaligus mencerminkan bagaimana Rusia melihat perpecahan antara AS dan sekutu Eropa.
Dalam pemberitaan lain, media pemerintah Rusia bahkan membandingkan potensi pengambilalihan Greenland dengan peristiwa besar dalam sejarah dunia seperti penghapusan perbudakan oleh Abraham Lincoln atau penaklukan Napoleon, menggambarkan Trump seolah tengah melakukan aksi monumental.
Respon Dunia: Eropa dan Aliansi Transatlantik Terpecah
Reaksi Eropa terhadap wacana Washington ini sangat kuat. Negara-negara anggota NATO, termasuk Denmark selaku negara berdaulat atas Greenland, menegaskan bahwa wilayah itu bukan milik Amerika Serikat dan bahwa kedaulatannya tidak bisa diabaikan. Eropa melihat langkah Trump sebagai ancaman terhadap prinsip kedaulatan teritorial dan fondasi kerja sama di dalam NATO.
Ketegangan ini sempat membuat Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor kepada beberapa sekutu Eropa yang menolak wacana ini. Ancaman tersebut mencuat menjadi ancaman tarif sebesar 10% kepada delapan negara Eropa — termasuk Denmark, Jerman, dan Prancis — jika mereka terus menentang kebijakan AS tentang Greenland.
Namun dampaknya langsung terasa. Rencana tarif itu kemudian ditarik kembali setelah negosiasi antara AS, Denmark, dan sekjen NATO, menunjukkan bahwa tekanan diplomatik dari Eropa mampu memaksa Trump meredam eskalasi.
Posisi Rusia: Nikmati Ketegangan, tapi Ada Agenda Lebih Besar
Kenapa Rusia merespons dengan “nikmati” atau bahkan komentar sarkastik? Dari sudut pandang Moskow, retaknya koordinasi antara Amerika Serikat dan Eropa menguntungkan kepentingan geopolitiknya. Ketegangan semacam ini dapat melemahkan kohesi NATO, yang selama puluhan tahun menjadi landasan utama keamanan Eropa dan penahan terhadap ambisi Rusia.
Pejabat Rusia lainnya juga menyuarakan hal serupa. Mereka menggambarkan dinamika ini sebagai keterpecahan di barisan Barat — sesuatu yang menurut Moskow bisa membuka ruang bagi Rusia untuk memperkuat posisi tawarnya dalam konflik yang lebih besar, seperti perang Rusia–Ukraina yang masih berlangsung hingga kini.
Namun, sikap Rusia ini tidak sepenuhnya tanpa ambiguitas. Di satu sisi, Moskow tampak menikmati perselisihan transatlantik karena bisa mengalihkan fokus Eropa dari isu Ukraina. Di sisi lain, Rusia tetap berhati-hati, terutama karena pergeseran AS terhadap Rusia dalam beberapa kebijakan luar negerinya sendiri.
Dampak Lebih Luas: Sekutu Terpecah, Fokus Bergeser
Retaknya hubungan antara AS dan sekutu Eropa bisa berimplikasi lebih luas:
-
Kepercayaan di dalam NATO diuji, karena tindakan sepihak oleh negara besar bisa memicu skeptisisme di antara anggota.
-
Isu kedaulatan wilayah seperti Greenland menjadi simbol betapa rapuhnya solidaritas sekutu saat kepentingan nasional berbenturan.
-
Rusia dan aktor global lainnya dipandang semakin mampu mengeksploitasi perpecahan Barat untuk kepentingan strategis mereka sendiri, terutama dalam konflik jangka panjang seperti di Ukraina.
Sementara itu, komentar Putin maupun pejabat Rusia lainnya yang mengejek atau memuji Trump secara diplomatis juga mencerminkan realitas geopolitik yang kompleks: hubungan global kini bukan lagi hitam-putih antara blok lama seperti Barat versus Rusia, tetapi sebuah arena kompetisi strategis yang terus berubah.
Kesimpulan:
Kicauan dan komentar pejabat Kremlin terhadap kebijakan Trump terkait Greenland bukan sekadar sindiran politis. Mereka mencerminkan kalkulasi strategis Rusia yang melihat perpecahan antara Amerika dan sekutu Eropa sebagai peluang untuk memposisikan diri lebih kuat di panggung global — sekaligus menguji kembali tatanan keamanan internasional yang telah dibentuk pasca-Perang Dunia II.