Perjanjian Nuklir AS–Rusia Berakhir, Trump Dorong Kesepakatan Baru Libatkan China
Perjanjian Nuklir AS–Rusia Berakhir, Trump Dorong Kesepakatan Baru Libatkan China
Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia resmi berakhir pada awal Februari 2026. Berakhirnya kesepakatan ini menandai berakhirnya satu-satunya mekanisme pembatasan senjata nuklir strategis antara dua kekuatan nuklir terbesar di dunia. Di tengah kekhawatiran global, Presiden AS Donald Trump menyatakan ingin mendorong perjanjian baru yang lebih luas, termasuk melibatkan China.
Perjanjian Terakhir yang Membatasi Senjata Nuklir
Perjanjian yang berakhir tersebut dikenal sebagai New START (Strategic Arms Reduction Treaty). Kesepakatan ini mulai berlaku pada 2011 dan menjadi landasan utama pengendalian senjata nuklir strategis antara Washington dan Moskow.
Perjanjian tersebut membatasi masing-masing negara untuk memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir strategis serta 700 sistem peluncur seperti rudal balistik, kapal selam, dan pesawat pengebom berat.
New START selama bertahun-tahun dianggap sebagai pilar stabilitas nuklir global. Namun hubungan AS–Rusia yang memburuk, terutama sejak perang di Ukraina, membuat implementasi perjanjian itu melemah. Rusia bahkan sempat menangguhkan partisipasinya pada 2023, meski tetap mengklaim mematuhi batasan yang ada.
Upaya Perpanjangan Gagal
Menjelang berakhirnya perjanjian, Rusia mengusulkan perpanjangan sementara agar kedua negara tetap mematuhi batasan nuklir sambil menegosiasikan kesepakatan baru. Namun usulan itu tidak mendapat tanggapan dari Washington.
Presiden Donald Trump justru memilih membiarkan perjanjian tersebut berakhir. Ia menilai New START sebagai kesepakatan lama yang perlu diganti dengan perjanjian baru yang lebih modern dan komprehensif.
Trump Ingin Perjanjian Baru Libatkan China
Trump menyatakan keinginannya untuk membuat kesepakatan nuklir baru yang tidak hanya melibatkan AS dan Rusia, tetapi juga China. Menurutnya, kesepakatan baru harus mencerminkan realitas kekuatan global saat ini dan mencakup lebih banyak negara pemilik senjata nuklir.
Namun, Beijing menolak gagasan tersebut. Pemerintah China menilai kekuatan nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia, sehingga tidak tepat jika disamakan dalam perjanjian trilateral.
Kekhawatiran Dunia atas Balapan Senjata Baru
Berakhirnya New START memicu kekhawatiran luas di komunitas internasional. Tanpa kesepakatan pengendalian senjata, AS dan Rusia kini tidak lagi terikat batasan jumlah hulu ledak nuklir untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Para analis memperingatkan bahwa kondisi ini bisa memicu perlombaan senjata nuklir baru, terutama jika tidak ada perjanjian pengganti yang melibatkan negara-negara besar.
China juga menilai berakhirnya perjanjian tersebut dapat berdampak serius terhadap stabilitas strategis global dan sistem pengendalian senjata internasional.
Dialog Tetap Dibuka
Meski perjanjian berakhir, AS dan Rusia dilaporkan tetap membuka jalur dialog militer tingkat tinggi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga transparansi dan mencegah eskalasi di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Dampak Global
Berakhirnya perjanjian nuklir terakhir antara dua negara dengan persenjataan terbesar di dunia dipandang sebagai momen kritis bagi keamanan global. Tanpa mekanisme pembatasan yang jelas, risiko kesalahpahaman, perlombaan senjata, dan ketegangan militer diperkirakan meningkat.
Ke depan, keberhasilan atau kegagalan upaya membentuk perjanjian baru—terutama jika melibatkan China—akan menjadi penentu arah stabilitas nuklir dunia dalam dekade mendatang.